Ekonomi Jawa Tengah Melaju di Atas Nasional, Angka Kemiskinan Terus Menurun
SEMARANG – Kinerja perekonomian Jawa Tengah sepanjang tahun 2025 menunjukkan tren yang sangat positif. Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah pada triwulan IV 2025 mencapai 5,37 persen secara tahunan (year on year), melampaui rata-rata pertumbuhan ekonomi nasional yang berada di angka 5,11 persen.
Capaian tersebut menempatkan Jawa Tengah sebagai provinsi dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi kedua di Pulau Jawa. Pertumbuhan ini tidak hanya tercermin pada indikator makro, tetapi juga berdampak langsung terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat, salah satunya melalui penurunan angka kemiskinan.
Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin Maimoen, menyampaikan bahwa keberhasilan menekan angka kemiskinan merupakan capaian positif yang harus terus ditingkatkan. Hal itu disampaikannya saat memberikan pengarahan pada Pembukaan Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) 2026 dan Konsultasi Publik Rancangan Awal RKPD 2027 di Grhadika Bhakti Praja, Semarang, Jumat (6/2/2026).
Menurut Gus Yasin, momentum pertumbuhan ekonomi yang berada di atas rata-rata nasional perlu dijaga keberlanjutannya dan diarahkan pada program-program yang secara langsung menyasar kelompok masyarakat bawah.
Ia menegaskan, upaya penurunan kemiskinan harus dilakukan secara lebih masif dan terintegrasi, dengan penganggaran yang fokus pada peningkatan kesejahteraan, termasuk penyediaan akses pendidikan yang lebih baik bagi penyandang disabilitas guna meningkatkan kualitas hidup mereka.
Sementara itu, Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Tengah, Sumarno, mengungkapkan bahwa tingkat kemiskinan di Jawa Tengah berhasil ditekan dari 9,48 persen pada Maret 2025 menjadi 9,39 persen pada September 2025. Jumlah penduduk miskin tercatat sebanyak 3,34 juta orang pada September 2025, berkurang 21,87 ribu orang dibanding Maret 2025, serta turun 51,52 ribu orang dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.
Sumarno menambahkan, pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah bersifat inklusif, tercermin dari gini ratio yang berada di angka 0,350, yang menunjukkan ketimpangan pendapatan antarmasyarakat semakin mengecil.
Kondisi ekonomi yang membaik juga terlihat dari meningkatnya Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) per kapita yang kini mencapai Rp50,82 juta atau tumbuh 5,9 persen dibanding tahun sebelumnya. Di sisi ketenagakerjaan, tingkat pengangguran terbuka berhasil dipertahankan pada angka 4,32 persen per November 2025.
Meski demikian, Pemprov Jawa Tengah mengakui masih terdapat tantangan pada peningkatan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) yang saat ini berada di angka 74,77 atau setara dengan rata-rata nasional.
Untuk menjawab tantangan tersebut, Pemprov Jateng telah menetapkan arah kebijakan strategis menuju 2027, dengan menjadikan sektor pariwisata berkelanjutan dan ekonomi syariah sebagai motor baru pertumbuhan ekonomi daerah. Selain itu, revitalisasi sarana praktik SMK serta peningkatan kompetensi guru berbasis kebutuhan industri juga menjadi prioritas, guna menciptakan sumber daya manusia yang berdaya saing di pasar kerja global.
Sumarno menegaskan, pencapaian target pembangunan tidak dapat diraih tanpa dukungan dan kolaborasi seluruh elemen masyarakat Jawa Tengah.
Sumber : jatengprov.go.id
IMG-20260206-WA0111.jpg
IMG-20260206-WA0107.jpg
IMG-20260206-WA0105-1024x683.jpg
IMG-20260206-WA0109-1024x683.jpg