KEBUMEN — Biaya pengadaan obat untuk 35 puskesmas dan dua RSUD di Kebumen ditargetkan turun 8–12 persen apabila PT Luk Ulo Farma berhasil menjadi Pedagang Besar Farmasi (PBF) pada 2027. Perusahaan milik daerah tersebut berencana memangkas rantai distribusi agar pengadaan obat lebih efisien.

 

Direktur PT Luk Ulo Farma, Suharyanto, mengatakan selama ini terdapat margin distribusi obat sebesar 12–18 persen yang dinikmati distributor di luar daerah. Dengan menjadi PBF, perusahaan berharap dapat mengambil peran lebih besar dalam penyediaan obat bagi fasilitas kesehatan di Kebumen.

Rencana tersebut didukung peningkatan kinerja perusahaan. Menurut data yang disampaikan manajemen, laba bersih Luk Ulo Farma meningkat dari sekitar Rp280 juta pada akhir 2025 menjadi Rp780 juta pada 2026. Kenaikan laba ini juga membuka peluang peningkatan kontribusi dividen terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD).

 

Untuk merealisasikan rencana PBF, perusahaan telah mengajukan permohonan penggunaan aset Pemkab Kebumen, dengan opsi lokasi di bekas Gedung Pramuka atau gedung PMI.

Selain mengembangkan distribusi obat, Luk Ulo Farma memperluas jaringan apotek dengan membuka cabang keenam di Jalan Daendels, seberang SMPN 1 Ambal, Jumat (9/10/2026).

Cabang baru tersebut diharapkan mempermudah warga Ambal, Bonorowo, Mirit, dan wilayah sekitarnya dalam memperoleh kebutuhan obat tanpa harus menempuh perjalanan lebih jauh.

 

Bupati Kebumen Lilis Nuryani berharap pengembangan usaha Luk Ulo Farma dapat berjalan seiring dengan peningkatan akses layanan kesehatan masyarakat.

Peresmian apotek turut dirangkai dengan pemberian santunan kepada anak yatim dan bantuan sembako bagi warga yang membutuhkan.